Example floating
Example floating
News

Demam Batu Akik dan Batu Mulia Bangkit Lagi, Kolektor dari Berbagai Daerah Berburu Batu Kelas Premium di Cipanas

×

Demam Batu Akik dan Batu Mulia Bangkit Lagi, Kolektor dari Berbagai Daerah Berburu Batu Kelas Premium di Cipanas

Sebarkan artikel ini
IMG 20260726 WA0002

Cianjur, aksaraharian.com – Geliat perdagangan batu akik dan batu mulia kembali hidup di kawasan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Setelah sempat meredup dalam beberapa tahun terakhir, lapak-lapak pedagang kini kembali dipadati kolektor dan penghobi dari berbagai daerah yang berburu batu berkualitas, mulai dari batu akik lokal hingga gemstone premium.

Ramainya aktivitas jual beli terlihat di sejumlah titik perdagangan di kawasan Cipanas. Kolektor datang dari Bogor, Sukabumi, Bandung, Jakarta, hingga luar Pulau Jawa. Berbeda dengan masa “demam batu akik” sekitar satu dekade lalu, pembeli saat ini didominasi kolektor yang memahami kualitas, keaslian, serta nilai investasi setiap batu.

Salah seorang kolektor sekaligus pedagang batu akik di Cipanas, Hambali (40), mengatakan peningkatan transaksi mulai dirasakan dalam beberapa bulan terakhir.

“Pembelinya sekarang lebih selektif. Mereka datang memang mencari batu yang berkualitas, bukan hanya mengikuti tren. Yang paling dicari tetap batu yang memiliki karakter, warna alami, serat yang bagus, dan tentunya asli,” ujar Hambali kepada wartawan, Minggu (26/7/2026).

Menurut Hambali, sejumlah batu yang saat ini banyak diburu di antaranya Bacan, Pancawarna Garut, Kalimaya (Black Opal), Sungai Dareh, Giok Aceh, Badar Besi, Lumut Garut, Solar Aceh, hingga berbagai jenis batu akik lokal asal Jawa Barat.

Selain batu akik, permintaan terhadap batu mulia atau gemstone juga mengalami peningkatan. Kolektor kini banyak mencari Ruby (Mirah Delima), Blue Sapphire, Yellow Sapphire, Emerald (Zamrud), Spinel, Alexandrite, Aquamarine, Topaz, Amethyst (Kecubung), Citrine, Garnet, Tourmaline, Tanzanite, Peridot, Zircon, hingga Lapis Lazuli yang memiliki kualitas premium dan sertifikasi gemologi.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi. Batu akik untuk penghobi pemula dibanderol mulai puluhan ribu rupiah, sementara batu akik langka dan batu mulia berkualitas tinggi dapat mencapai puluhan juta hingga ratusan juta rupiah, bergantung pada tingkat keaslian, kejernihan, warna, ukuran, kelangkaan, serta sertifikat yang dimiliki.

Sementara itu, kolektor batu akik dan batu mulia, Yusuf (46), menilai kebangkitan pasar batu alam tidak hanya didorong oleh hobi, tetapi juga meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap nilai seni dan investasi.

“Batu alam adalah karya alam yang tidak bisa diduplikasi. Setiap batu memiliki motif, serat, warna, dan karakter yang berbeda. Justru karena keunikannya itulah nilai koleksi sebuah batu bisa terus meningkat apabila kondisinya terjaga dan keasliannya dapat dipertanggungjawabkan,” kata Yusuf.

Ia menambahkan, saat ini banyak kolektor lebih mengutamakan kualitas dibanding jumlah koleksi. Batu yang telah memiliki sertifikat laboratorium gemologi menjadi pilihan karena memberikan kepastian mengenai jenis dan keaslian batu.

Menurutnya, komunitas pecinta batu akik dan batu mulia di Cianjur juga masih aktif menggelar pertemuan, berbagi pengetahuan mengenai mineral dan gemstone, serta melakukan transaksi antarkolektor yang kini semakin banyak memanfaatkan platform digital.

Bangkitnya pasar batu akik turut memberikan dampak positif terhadap pelaku usaha kecil. Tidak hanya pedagang batu, tetapi juga pengrajin cincin perak, pengrajin emas, jasa pemoles batu (lapidary), hingga penjual aksesori kembali merasakan peningkatan permintaan.

Para pelaku usaha berharap Pemerintah Kabupaten Cianjur dapat memfasilitasi penyelenggaraan festival batu akik dan batu mulia, pameran mineral, maupun kontes batu tingkat regional. Langkah tersebut dinilai dapat memperkenalkan kekayaan batu alam Indonesia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan sektor pariwisata di Kabupaten Cianjur.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *