Example floating
Example floating
News

Bupati Tangerang Ajak Guru Ngaji dan Ponpes Bersinergi Cegah Kekerasan Perempuan dan TPPO

×

Bupati Tangerang Ajak Guru Ngaji dan Ponpes Bersinergi Cegah Kekerasan Perempuan dan TPPO

Sebarkan artikel ini
berita cd7b97a2 dae7 41e9 a309 375b7de0af47

Tangerang, aksaraharian.com – Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, mengajak para guru ngaji, ustaz, ustazah, serta pimpinan pondok pesantren (ponpes) untuk bersama-sama bersinergi dalam mencegah tindak kekerasan terhadap perempuan dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Ajakan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan TPPO yang digelar pada Selasa (9/6/2026).

“Kami mohon sekali lagi bantuannya kepada para guru ngaji, ustaz, ustazah, dan pengelola pondok pesantren. Mari kita bergandeng tangan mencegah pelanggaran pidana. Jangan pernah lelah untuk terus mengedukasi masyarakat,” ujar Maesyal Rasyid.

Menurutnya, kekerasan terhadap perempuan dan anak serta tindak pidana perdagangan orang bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga tragedi kemanusiaan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan norma sosial.

“Persoalan kekerasan ini bukan sekadar pelanggaran hukum pidana, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan yang mencederai norma-norma agama,” tegasnya.

Maesyal mengungkapkan, kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang terus meningkat setiap tahun harus menjadi perhatian serius seluruh pihak. Ia menilai peran guru ngaji, ustaz, ustazah, dan pengelola ponpes sangat penting dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait keharmonisan keluarga dan pola asuh yang baik.

“Saya minta para guru ngaji, kiai, ustaz, ustazah, dan pimpinan pondok pesantren terus memberikan edukasi mengenai keharmonisan rumah tangga, tanggung jawab suami-istri, serta pola asuh anak dalam setiap ceramahnya. Dengan begitu, kita bisa bersama-sama menekan angka kasus yang terus meningkat setiap tahunnya,” katanya.

Selain fokus pada pencegahan kekerasan, Bupati Tangerang juga mendorong Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung pemberdayaan ekonomi di lingkungan pesantren.

Menurutnya, lahan kosong yang dimiliki pondok pesantren dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif seperti budidaya hortikultura, tanaman palawija, maupun usaha perikanan bioflok yang mampu meningkatkan kesejahteraan santri dan pengajar.

“Nanti kalau ada lahan di pondok pesantren yang belum dimanfaatkan, kami akan upayakan melalui DP3A atau dinas terkait untuk ditanami hortikultura, palawija, atau dibuat kolam bioflok. Selain memberikan aktivitas positif bagi santri dan guru ngaji, juga dapat menambah pendapatan dan kesejahteraan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala DP3A Kabupaten Tangerang, Asep Suherman, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan memperkuat peran ustaz, ustazah, dan pondok pesantren sebagai mitra strategis pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang aman, ramah perempuan dan anak, serta bebas dari kekerasan dan perdagangan orang.

“Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran dan peran aktif ustaz, ustazah, serta pondok pesantren dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta TPPO melalui penguatan pengetahuan, kewaspadaan, edukasi masyarakat, dan sinergi dengan pemerintah daerah serta para pemangku kepentingan,” jelas Asep.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut melibatkan Kementerian Agama Kabupaten Tangerang, Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Provinsi Banten, kalangan advokat, Forum Silaturahmi Pondok Pesantren, tokoh agama, Ketua MUI kecamatan, serta tokoh masyarakat. Mereka diharapkan menjadi garda terdepan dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan dan perdagangan orang di tengah masyarakat.

(Hnd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *